Gw share disini yah posting-nya.. smoga bermanfaat..
==============================
Nasionalisme 2.0: Bagaimana Generasi Blackberry Menemukan Kembali Indonesia
Desi Anwar punya kesibukan baru. Setiap makan, entah pagi, siang, atau malam, dengan cermat ia akan mencatat setiap item menu yang dipesannya untuk dikabarkan lewat situs jejaring sosial di internet, Twitter. Suatu kali ia melaporkan begini: nasi merah, tahu & tempe, tumis toge & kacang panjang dipotong pendek, telor ceplok pake kecap, goreng udang.
Sekilas, apa yang dilakukan Desi bikin kita tergeli-geli. Apa sih pentingnya mengatakan kepada dunia apa yang dia makan? Siapa yang pengen tahu? Tapi, jangan salah. Presenter kondang yang kini kita kenal sebagai salah satu eksekutif di MetroTV itu sebenarnya sedang melakukan sebuah hajat besar. Ini terbaca dari bagian akhir pernyataannya yang selalu diembel-embeli dengan semacam label “#Indonesiaunite”.

#Indonesiaunite adalah payung yang diciptakan untuk menaungi kemarahan dan keprihatinan kolektif sekelompok orang yang punya ikatan di social media atas peristiwa peledakan bom di Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009. Gerakan ini awalnya muncul di Twitter dan belakangan merambah juga ke Facebook. Di Twitter, #Indonesiaunite sempat menduduki ranking pertama dalam list trending topics, yakni topik yang paling banyak dibicarakan oleh pengguna Twitter di seluruh dunia. Tapi, apa ini maknanya? Sekedar kehebohan segelintir orang yang melek internet dan ke mana-mana menggenggam Blackberry?
Saya sendiri tak mampu menahan diri untuk tak ikut larut dalam eforia ini. Kebetulan, berdekatan dengan hari pengeboman itu, saya baru saja jalan-jalan ke sejumlah lokasi wisata di Indonesia (Bali dan Pangandaran), dan #iIndonesiaunite menyadarkan saya bahwa ada Indonesia di sana. Bahwa pantai-pantai yang indah itu adalah Indonesia. Pertanyaannya, selama ini kita ke mana saja? Mengapa harus ada bom dulu baru kita ingat dan sadar bahwa Indonesia adalah bagian dari diri kita, merupakan faktor penting yang mesti senantiasa dipertimbangkan terus-menerus, dicintai tak henti-henti?
Nasionalisme kita ternyata baru sebatas nasionalisme reaktif. Malaysia mengklaim bahwa batik adalah miliknya, dan kita marah, lalu beramai-ramai memakai batik setiap hari Jumat. Selama ini kita ke mana saja? Bangkitnya nasionalisme di Twitter, yang demikian mengharukan, adalah sebuah pertunjukan nasionalisme melodramatik yang sebenarnya masih bersifat permukaan. Ini bukan kritik, melainkan justru kesadaran untuk tak terlena, karena sedikit-banyak saya adalah bagian darinya, ada di dalamnya, ikut larut dalam gegap-gempita dadakan yang penuh emosi itu.

Nasionalisme tahu-tempe kita, adalah bagian dari apa yang dikonsepsikan oleh Michael Billig sebagai nasionalisme banal. Meskipun muncul secara “lembut” di permukaan, namun nasionalisme banal bisa dimobilisasi menjadi sebuah nasionalisme yang hiruk-pikuk. Gerakan #Indonesiaunite berhasil membuat para pengguna Twitter di Indonesia beramai-ramai mengubah foto profil mereka dengan bendera merah putih sebagai background, atau sebagai “insert” kecil di sudut bawah. Bendera merah-putih yang biasanya hanya kita ingat pada 17 Agustus, tiba-tiba menjadi atribut yang bergengsi, seksi, memberi kebanggaan. Makan tahu-tempe tiba-tiba menjadi bagian dari apa yang disebut Stuart Hall sebagai “narrative of nation, yakni serangkain cerita, citra, lanskap, skenario, peristiwa historis, simbol dan ritual yang merepresentasikan pengalaman bersama yang memberi makna bagi bangsa. Indonesia sebagai sebuah “imagine community” mendapatkan konstruksi baru dan peran perekonstruksi itu bukan lagi media massa (seperti pernah dirumuskan oleh Ben Anderson) melainkan media sosial seperti Twitter.
Lalu, apa yang salah dengan nasionalisme banal? Tidak ada. Justru ada saatnya nasionalisme banal seperti itu memang kita perlukan, setidaknya sebagai pijakan untuk menuju nasionalisme yang “tulus”, bukan nasionalisme “bara api” yang hanya menyala kalau dikipasi. Sebab, bagaimana pun, nasionalisme itu bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan konstruk yang (mesti) dibangun dan direproduksi terus-menerus. Nasionalisme adalah proses yang tak henti memperbaruhi diri, yang berlangsung di ruang-ruang social, dari keluarga, sekolah, pemerintah, lembaga agama, dan media massa. Gerakan #Indonesiaunite di Twitter adalah bagian dari proses itu, yang secara masif telah mengingatkan kita bahwa kita bagian dari apa yang disebut “nation”, yakni Indonesia.
Mudah-mudahan, bersamaan dengan itu, kita juga mulai menyadari bahwa ketela, singkong, ganyong, uwi, kimpul, gembili, suweg, dan berbagai umbi-umbian khas nusantara lainnya, yang selama ini hanya kita jadikan bahan tertawaan, ikon sebuah masyarakat udik, desa dan kuno, sebenarnya adalah potensi asli bangsa ini. Mudah-mudahan setelah ini kita ingat lagi bahwa kita punya kebudayaan wayang orang. Mudah-mudahan kita ingat, bahwa kita punya Bahasa Indonesia, yang terbukti telah menyatukan berbagai suku yang berbeda-beda, namun selama ini kita sepelekan, kita rusak dengan sembrono dan tidak pernah kita pedulikan bagaimana cara penggunaannya dengan baik –melainkan justru kita rongrong terus-menerus keindahannya dengan mencampur-campurkannya dengan bahasa asing, kita singkat-singkat dengan sesat dan kita pleset-plesetkan menjadi bahasa gaul.
Awalnya saya berpikir dan berharap begitu. Namun, melihat perkembangannya, saya jadi ragu dengan gerakan #Indonesiaunite. Di Twitter, gerakan ini terus bergulir, dengan pernyataan-pernyataan 140 karakter yang terasa mulai berlebihan, kehilangan spirit awalnya, kurang spontan, agak dibuat-buat, berisik, lips service, sloganistik, genit, dan nyaris kehilangan makna. Sebagian dari pegiat gerakan ini mulai membuat pernyataan-pertanyaan seperti ini: Mending ke Singaparna daripada ke Singapura. Mending mencintai Bandung ketimbang Paris. Lebih berarti ke Bali daripada beli sepatu Bally. Mendingan makan pecel lele dari pada beli produk Elle. Mending makan mie ayam daripada spagetti. Mendingan kuliah di ITB dari pada di MIT. Mendingan lagu “Januari”-nya Glenn Fredly daripada “If ur not the one”-nya Daniel Beddingfield. Dan seterusnya senada dengan itu, sambung-menyambung, bersautan-sautan.
Kalau sudah begini ceritanya, ini sudah bukan nasionalisme banal lagi, melainkan nasionalisme semu. Atau bahkan jangan-jangan ini bukan nasionalisme! Jangan-jangan saya terlalu serius menanggapi #Indonesiaunite yang sebenarnya hanyalah lucu-lucuan dari sekelompok orang yang sedang asik sendiri?
Lagian, kan, mereka yang lebih suka (dan karena memang mampu) berlibur ke luar negeri dan lebih menyukai produk-produk asing itu adalah golongan masyarakat dari kelas sosial yang sama dengan kaum melek internet pengguna Blackberry yang terus-menerus sibuk meng-update status-nya di Twitter itu? Dan, itu artinya kan mereka sendiri! Mending blanggreng ketimbang kentang goreng? Yakin? Bokis, ah!
Bagaimanapun, #Indonesiaunite telah berhasil “mengundang” kembali Indonesia ke dalam diri kita. Pernahkah Anda melihat bendera merah-putih yang berkibar sepanjang hari sepanjang tahun di halaman gedung-gedung pemerintah? Selama ini Indonesia adalah bendera-merah putih itu: tinggi, kesepian, tak diperhatikan, terlupakan. Andai saja semangat awal gerakan #Indonesiaunite ini bisa terus dipertahankan, tak ada alasan bagi kita untuk pesimis bahwa Indonesia akan senantiasa dan terus-menerus menjadi bagian dari keseharian kita. Semoga.
==============================
Jeng Tera Says:
July 27th, 2009 at 11:35 pm
Wow nice post!!
merah putih memang sedang berkibar di twitter.
dan mudah-mudahan ini bukan bersifat reaktif aja.
Tapi at least ada sikap dan aksi untuk menanggapi pelecehan terhadap harga diri bangsa, dari pada kita tidak bersikap sama sekali.
;)
*ijin untuk saya share di blog saya juga ya..
;)






